You, Me and The Fireworks


Terkadang hal yang romantis terjadi tanpa kita rencanakan. Seperti saat kita bertemu dengan orang yang kita suka, kadang terasa waktu berjalan sedikit terlambat dari biasanya. Kita hanya bisa melihat matanya tanpa sanggup berkata apa-apa, hanya, ‘Wow..’
Mugkin hal sepele ini tidak berarti apa-apa. Tapi bagi mereka yang jatuh-cinta-banget, hal ini merupakan hal yang romantis dan kadang membuat mereka tidak bisa tidur.
Sama seperti mereka yang pernah dibuat “mabuk oleh cinta” gue pun juga mengalaminya.

Di daerah tempat gue tinggal, Ponorogo, Grebeg Suro adalah upacara adat yang tak boleh dilewatkan.Grebeg Suro biasa dirayakan dengan diadakannya Festival Reyog Nasional (FRN) yang diikuti oleh grup-grup reyog dari seluruh Indonesia. Festival ini memperebutkan piala bergilir Presiden RI. Gue selalu nonton setiap tahunnya. Sebagai orang Ponorogo gue sangat bangga bisa terlibat dengan festival sebesar ini, ya.. walaupun cuman nonton, yang penting terlibat.
26 November 2011, gue masih inget hari itu, gue males banget untuk menonton penutupan Grebeg Suro 2011 dan Festival Reyog Nasional XVIII yang diadakan di alun-alun Ponorogo. Karena pada hari itu gue ada latihan basket dan baru pulang sekitar jam 6 sore. Karena capek gue mencoba untuk tiduran. Tiba-tiba HP yang ada di tangan kanan gue berdering menandakan ada pesan masuk yang harus gue baca. “Siapa yang nonton upacara penutupan ?”, isi pesan tersebut. Pesan itu berasal dari gadis yang gue suka, namanya Labina.
“Kamu nonton ?” bales gue.
“Iya, kamu nonton ?”
“Nggak kayaknya, gak punya tiket masuk. Kamu nonton lewat apa ?”
“Undangan.”
Untuk menonton FRN, lo harus punya tiket atau undangan. Tiket untuk umum, dan undangan untuk orang-orang tertentu yang biasanya memiliki jabatan di Ponorogo.
“Mmmmm, pengen ikut, tapi gak punya undangan.” gue bales jujur apa adanya.
“Ikut kita aja, ntar bisa pakai undanganku.”
“Beneran ?”
“Iya.”
Kita janjian untuk berkumpul di rumah salah satu teman yang deket dengan tempat acara berlangsung. Kita memang tidak nonton berdua, tapi bareng sama temen-temen lainnya. Jam setengah 8 adalah waktu yang ditentukan untuk berkumpul.
Gue bersiap-siap dan memilih-milih baju untuk dipakai. Gue memilih baju lengan panjang warna abu-abu dengan celana hitam. Saat gue bersiap untuk berangkat, nyokap gue (baca : Ibu) memberi info yang sangat membantu. ‘Kalo kamu berangkatnya jam segini, pasti jalan buat masuk ke alun-alun udah ditutup.’
‘Be.. Beneran ma ?’ gue bingung.
‘Bener.’ jawabnya mantap dan langsung merusak mood gue.
‘Mmmmm, aku coba dulu deh ma.’
‘Yauda, terserah kamu.’
Gue berangkat menuju rumah temen gue. Tapi bener kata nyokap (baca : Mom) gue, semua jalan menuju alun-alun ditutup dan dijaga polisi. Begitu juga dengan jalan menuju ke rumah temen gue. HP gue berdering kembali. “Kamu dimana sih ?”, isi pesan tersebut. Ya.. pesan itu dari Labina. Gue berhenti di tepi jalan dan menelfonnya.
‘Halo, sorry nih. Jalannya ditutup semua’
‘Duh gimana dong ? Coba kamu cari tempat parkir deh’
‘Tempat parkir ?’ jawab gue bego.
‘Iya, trus langsung kesini. Kamu udah telat banget lho’ jawabnya dengan suara agak jengkel.
‘Oke deh, tunggu ya.’ Gue menutup telfon dan segera mencari tempat buat parkirin motor gue.
Saat itu gue bingung banget. Gue gak kepingin dia kecewa sama gue. Waktu liat ada mas-mas yang menyediakan tempat parkir, gue langsung samperin.
‘Parkir mas.’
‘Oke, bayar langsung ya.’ jawab mas-mas-tukang-parkir-berwajah-blo’on.
‘Apa mas ?’ gue bales dengan wajah tak kalah blo’on.
‘Bukan “apa” dek, tapi bayar. 5000 rupiah.’ jawab masnya sewot.
Gue langsung menggerayahi kantong gue. Gue bayar sambil mengomel tentang tarif parkir yang menurut gue terlalu mahal.
Tempat parkir dan rumah temen gue bisa dibilang jauh. Gue mengecek waktu yang menunjukkan pukul 19.49.
Gue langsung lari.
Gue gak menghiraukan orang-orang pada ngeliatin gue dengan tatapan penuh tanya, “Anjing seperti apa gerangan yang membuat orang ini berlari ?”
HP gue berdering kembali. “Kamu dimana sih ?”
Gue gak bales sms dari Labina itu. Gue kepingin ngasih kejutan buat dia. Gue lari sambil senyum-senyum. Gue gak menghiraukan sms yang dia kirim beberapa kali. Gue melewati alun-alun dan langsung menuju ke rumah temen gue. Gue kirim sms “Bentar lagi aku nyampe, tunggu ya..” eh dia malah nelfon.
‘Kamu dimana ?’
‘Bentar lagi nyampe kok.’ Gue jawab sambil lari melewati kerumunan orang-orang.
‘Aku udah di depan alun-alun’ dia jawab dan gue langsung menghentikan laju lari gue.
Hening…
‘Kenapa gak bilang ?’ gue sewot.
‘Aku udah sms kamu berkali-kali !’ dia langsung menutup telfonnya.
Rencana gue buat ngasih kejutan gagal. Malah gue yang terkejut.
Gue langsung puter balik menuju alun-alun. Dengan setengah ngos-ngosan (sebenernya ngos-ngosan banget) gue lari sekuat tenaga. Sampai akhirnya gue sampai di depan alun-alun, tepatnya didepan pintu masuk FRN.
Gue mencari-cari dia di tengah-tengah kerumunan orang. Sampai gue liat wanita cantik yang bersandar dipagar dekat pintu masuk. Dia memakai kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak dipadu dengan celana jeans. Wanita itu terlihat sedang diajak bicara oleh ibu-ibu, tapi dia tidak memperhatikan, ia sibuk dengan HP-nya. ‘Hei !’ aku menyapanya. Wajahnya melihat ke arahku. Ia terlihat marah. ‘Lama banget sih ?!’ wanita itu adalah Labina.
‘Maaf ya, tadi macet. Hehe’ gue menjelaskan. ‘Mana temen-temen yang lain ?’
‘Udah pada masuk.. Kamu sih lama banget.. Yaudah, yuk masuk’
Kita masuk ke panggung utama alun-alun, tempat acara FRN digelar, sambil menunjukkan kartu undangan yang dibawa Labina. Kita melewati karpet merah yang kanan kirinya diapit oleh tempat duduk untuk penonton umum bukan undangan.
Semua orang pada ngeliatin kita penuh tanya, “Kenapa wanita cantik itu jalan sama tukang ojeknya ?”
Gue berasa jadi raja dan Labina ratunya.
Tiba-tiba Labina bicara ke gue.
‘Kamu jangan jalan deket-deket aku ya.. Aku gak mau kalo kita dikira pacaran’
Hening kembali…
Gue diem, gue bener-bener berasa jadi tukang ojeknya sekarang. Gue agak menahan langkah gue agar Labina tidak risih karena dikira pacaran sama tukang ojeknya. Nampaknya gue bener-bener merusak mood yang seharusnya baik-baik saja.
Gue dan Labina menemui teman-teman yang sudah menuggu cukup lama. Kami duduk berdampingan.  Now playing Ungu feat. Andien – Saat Bahagia
‘Maaf ya ?’ gue memelas.
‘Ya.’ Dia jawab cuek.
Kita saling diam. Terasa seakan hawa di sekitar tubuh gue lebih berat dari biasanya.
Dia asik mengobrol dengan temannya dan terkadang sibuk dengan HP-nya. Sedangkan gue.. gue cuman memandangi wajahnya dan terkadang berkedip sebentar. Sesekali ia tersenyum, dan saat itu gue cuman bisa meminum air putih, yang disediakan panitia FRN, untuk menenangkan jantung gue yang berdetak tidak pada tempo yang seharusnya.
Yang kita tunggu pada acara ini adalah kembang apinya. Labina sampai rela menahan kantuknya untuk melihat kembang api yang terkenal spektakuler itu. Sesekali ia mengeluh bahwa ia mengantuk. Tapi saat gue mencoba untuk membangun obrolan, ia malah kembali asik dengan teman-temannya. Gue yang sewot spontan bicara, ‘Kamu duduk deket sama temen-temen kamu aja.’
‘Oke.’ dia jawab santai sambil berdiri.
‘Eehhh, tunggu..’ gue langsung pegang tangannya sebelum ia berdiri sepenuhnya. ‘Mmmmm.. kamu tetep duduk di sini aja.’
Ia kembali duduk.
Kami terdiam sebentar. Gue rasa mood jadi tambah jelek. Yang gue lakukan hanya menunggu kembang api dan berharap mood akan membaik.
Saat Grebeg Suro 2011 dan Festival Reyog Nasional XVIII resmi ditutup. Kembang api yang ditunggu-tunggu pun tiba.
Darr ! Darr !
Warna-warni kembang api menghiasi lagit malam itu.
Semua orang melihat kembang api spektakuler itu, termasuk Labina. Gue hanya melihat sebentar dan melanjutkannya dengan melihat senyum Labina.
Gue bener-bener butuh air putih saat ini, pikir gue dalem hati.

Hari itu diawali dengan biasa aja bahkan dengan mood yang rusak dan ditutup oleh kembang api yang menurut gue sangat spektakuler, lebih spektakuler dari tahun-tahun sebelumnya.

1 komentar:

Rizqi Kautsar mengatakan...

keren sob! :)) update lagi lah blognya...

Posting Komentar